buku Harun Yahya


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Monotype Corsiva”; panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Edwardian Script ITC”; panose-1:3 3 3 2 4 7 7 13 8 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US; mso-no-proof:yes;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US; mso-no-proof:yes;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 57.55pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:57.55pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:371534658; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1713788208 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:434248107; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-200081578 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:625426892; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-94222112 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1274896808; mso-list-template-ids:1778146446;} @list l3:level1 {mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:19.5pt; mso-level-number-position:left; margin-left:19.5pt; text-indent:-19.5pt;} @list l3:level2 {mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:19.5pt; mso-level-number-position:left; margin-left:19.5pt; text-indent:-19.5pt; mso-ansi-font-weight:bold;} @list l3:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-36.0pt;} @list l3:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l3:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l3:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l3:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l3:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l3:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-90.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehidupan saat ini tidak terlepas dari rangkaian perjalanan manusia dimasa lampau. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan dalam rangka mensejahterakan umat manusia. Tidak jarang pula banyak kendala yang harus dilalui oleh para ilmuan dalam ilmu science yang mereka gali. Beberapa hal ada yang berkaitan dengan hal yang lainnya dan hal itu terus menimbulkan pro dan kontra antar ilmuan dengan berbagai konsepnya. Dunia yang diperkirakan ada dengan tanpa sebab yang oleh para ahli kita sebut sebagai konsep statis yang akan terus berlangsung kehidupannya tanpa perlu menghadap kepada tuhannya harus mulai di kaji. Allah SWT berfirman:

“maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara sia-sia (saja)dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (al-mu’minun: 115)

“sebenarnya, hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”. (al-Qamar: 46)

Penulisan laporan ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Pada laporan ini penulis akan melaporkan mengenai teori yang berasal dari para ilmuan terutama Harun Yahya yang merupakan ilmuan Islam terkemuka saat ini dan dari ilmunya tersebut banyak melahirkan ilmu-ilmu baru yang berkaitan secara logis dengan akal dan kenyataan otentik dari berbagai penelitian.

1.2 Profil buku

Dengan mengacu pada latar belakang diatas, penulis akan melaporkan beberapa hal mengenai buku “Mengenal Allah Lewat Akal” Diantaranya yaitu :

Judul buku : Mengenal Allah Lewat Akal

Pengarang buku : Harun Yahya

Jumlah halaman : 251 halaman

Penerbit : Robbani Press

Tahun terbit : 2002

Penerjemah : Muhammad Shaddiq, S.Ag.

Isi buku : Buku ini berisi pembuktian-pembuktian mengenai keberadaan sang pencipta alam semesta dari hasil penelitian-penelitian oleh para ilmuan dari seluruh dunia yang cendrung berpahan ateis (tidak bertuhan). Harun Yahya sebagai ilmuan islam justru memutar balikan kesalahan-kesalahan teori yang cendrung mengabaikan keberadaan tuhan. Buku ini sarat dengan pemikiran logis yang secara empiris terbukti ilmiah dan mendukung adanya tuhan adalah harus dipercayai. Buku ini dapat menggoyahkan umat lain yang mendukung bahwa tuhan itu tidak ada (ateis). Buku ini patut dibaca oleh semua golongan agar lebih cinta kepada Allah yang Maha Kuasa.

1.3 Permasalahan

Adapun beberapa permasalahan yang akan dijabarkan dalam laporan ini diantaranya yaitu :

1.3.1 Bagaimana alam semesta ini tercipta?

1.3.2 Apakah ada hubungannya hasil penelitian dari para ilmuan dengan ayat-ayat yang tertera di dalam al-Qur’an?

1.3.3 Bagaimana mengenal Allah lewat akal itu?

BAB II

PEMBAHASAN

Bagian 1:

Pendahuluan buku “Mengenal Allah Lewat Akal”

Pada bagian satu dari buku “Mengenal Allah Lewat Akal”, Harun yahya cendrung menjabarkan bilamana sesuatu terjadi tanpa ada yang membuatnya. Harun yahya mengatakan apabila orang berpikir bahwa menara Eiffel itu ada secara kebatulan maka, otak atau psikologis dari orang yang menyatakan demikian itu harus dipertanyakan.

Agama mengajari kita tentang identitas Pencipta kita yang keberadaanya kita temukan melalui akal. Melalui agama tersebut, kita tahu bahwa Dia adalah Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, Yang mencaiptakan langit dan bumi dari ketiadaan. Tubuh manusia bukan satu-satunya bahan pemikiran. Kehidupan itu ada di setiap milimeter bidang di bumi ini, baik bisa diamati oleh manusia maupun tidak. Dunia ini mengandung begitu banyak makhluk hidup, dari organisme uniseluler sehingga tanaman, serangga hingga binatang laut, dan dari burung hingga manusia. Jika anda mengambil segenggam tanah dan memperhatikannya, disinipun anda bisa menemukan banyak makhluk hidup dengan karakteristik yang berlainan. Tidak ada peristiwa kebetulan yang bisa menghasilkan sistem-sistem serumit itu.

Semua bukti ini memgarahkan kita pada suatu kesimpulan bahwa alam semesta berjalan dengan “kesadaran” (conciousness) tertentu. Selanjutnya, apa sumber kesadaran ini? Tentu saja bukan makhluk-makhluk yang terdapat di dalamnya. Keberadaan dan keagungan Allah terungkap dengan sendirinya melalui bukti-bukti yang tak terhitung di alam semesta. Sebenarnya, tidak ada seorang pun di bumi ini yang tidak akan menerima kenyataan bukti ini dalam hati sanubarinya. Sekalipun demikian, mereka masih mengingkarinya “karena kejaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakininya” sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an surat an-Naml: 14.

Bagian 2:

Ada Dari Tiada

Di dalam isi buku bagian ke dua ini Harun Yahya menjelaskan beberapa teori asal mula terjadinya alam semesta. Para ilmuan dan pakarnya membahas tentang bagaimana alam semesta berasal, kemana bergeraknya, dan bagaimana hukum-hukum alam mempertahankan keteraturan dan keseimbangan alam semesta. Teori yang berlaku sampai abad ke-20 ialah bahwa alam semesta yang mempunyai ukuran yang tidak terbatas, ada tanpa awal, dan terus ada untuk selama-lamanya. Menurut pandangan ini –yang disebut ‘model alam semesta statis yaitu semesta tidak mempunyai awal maupun akhir. Dengan mengacu pada filsafat materialis, pandangan ini menolak adanya pencipta.

Materialisme ialah sistem pemikiran yang menganggap bahwa zat itu merupakan suatu makhluk yang mutlak dan menolak segala keberadaan kecuali semua keberadaaan zat. Dengan berakal pada filsafat Yunani Kuno dan semakin diterimanya materialisme diabad ke-19, sistem pemikiran ini menjadi terkenal dalam bentuk materialisme dialektis Karl Mark.

Ditahun 1929, di Obsorvatorium Kalifornia Mounth Wilson, astronom bekebangsaan Amerika Edwin Hubbble menemukan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia mendapati cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah dan ini lebih memperjelas bahwa bintang-bintang itu menjauh dari bumi. Penemuan ini mempengaruhi dunia ilmu pengetahuan, karena menurut teori ilmu fisika yang sudah diakui, spektrum cahaya bekelip-kelip yang bergerak menjauhi tempat observasi itu cendrung mendekati warna merah. Artinya, bintang-bintang itu menjauh secara tetap. Sehingga kesimpulannya adalah bahwa alam semesta bergerak menjauh secara tetap yang berarti alam semesta bertambah luas.

Alam semesta yang bertambah luas itu menunjukan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka alam semesta berasal dari “titik tunggal”. Perhitungan menunjukan bahwa titik tunggal ini, mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di dalam alam semesta, mempunyai volume nol dan kerapatan tak terbatas. Alam semesta terjadi karena adanya ledakan dari titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan luar biasa dahsyatnya disebut Ledakan Dahsyat (Big Bang) ini menandai dimulainya alam semesta. Di dalam buku tersebut disebutkan pula ayat al-Qur’an sebagai pendukung kebenaran teori tersebut yaitu Q.S Al-Anbiyaa’:30.

Disebutkan pula bahwa para ilmuan barat tidak semuanya menerima teori Big Bang. Mereka yang tidak mempercayainya terus-menerus mencari alternatif lain yang menurut faham mereka benar. Para tokoh ini yaitu; A.S. Eddington, seorang pakar fisika terkemuka yang menganut paham materialisme, Sir Fred Hoyle yang mempertahankan teori Keadaan Tetap, George Politzer, Dennis Sciama, dll.

Di dalam buku disebutkan banyak bukti yang mendukung teori Big Bang diantaranya yaitu bisa melalui hipotesis terlebih dahulu yang nantinya terwujud dari hasil penelitian oleh orang yang berbeda. Seperti pernyataan dari George Gamov (1948) yang menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta melalui peristiwa ledakan dahsyat, harus ada limpahan radiasi yang tertinggal dan harus merata di alam semesta. Barulah pada tahun 1965 Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan radiasi latar kosmos yang merambati seluruh raung angkasa. Penzias dan Wilson mendapatkan Nobel atas penemuan ini. Untuk menguatkan penelitian Penzias dan Wilson maka tahun 1989, NASA mengirimkan satelit COBE ke ruang angkasa untuk meneliti radiasi latar kosmos yang hanya butuh waktu 8 menit saja dan semuanya menuju pada satu kebenaran teori yaitu teori Big Bang.

Pada bab ini pun Harun Yahya menguraikan sedikit mengenai atom sebagai unsur pembangun sesuatu. Atom mempunyai nukleus yang mengandung proton dan neutron. Elektron bergerak mengelilingi nukleus dalam suatu orbit yang tetap dengan kecepatan 1000 km/detik. Atom menunjukan keseimbangan yang telah distel oleh yang menciptakannya sehingga tidak pernah salah orbit lintasan sama halnya dengan planet-planet di angkasa.

Dari bagian dua buku ini kita dapat menarik suatu kesimpulan yaitu bahwa filosofi materialisme yang hanya merupakan suatu dogma abad ke-19, diganti dengan ilmu pengetahuan abad ke-20 yang didukung dengan bukti-bukti dari para ahli yang terpercaya dan tidak terbantahkan jika alam semesta muncul dari ketiadaan yang tiada lain adalah diciptakan oleh Allah SWT.

Bagian 3:

Ayat-ayat di Langit dan di Bumi

Harun Yahya mengambil sub judul Ayat-ayat di Langit dan di Bumi pada bagian ke tiga ini adalah karena di dalamnya banyak diceritakan berbagai kebesaran Allah baik yang terdapat pada hewan maupun tumbuhan yang dikaitkan dengan ayat yang ada di dalam al-Qur’an. Contohnya saja di dalam tubuh kita seperti mata untuk melihat yang bila salah satu fungsinya berhenti atau kehilangan kelopak mata maka mata akan kehilangan fungsinya. Tidak ada mata yang setengah jadi yang dapat melihat. Sama halnya dengan sayap, burung dengan sayap setengah-sayap tidak akan bisa terbang karena tidak sempurna. Mata bukan ciptaan manusia yang ingin melihat tetapi merupakan ciptaan Allah seperti yang terdapat pada Q.S. al-Mulk:23.

Selain mata Harun Yahya juga menjelaskan sistem kekebalan tubuh dari berbagai penyakit. Harun Yahya menjelaskannya seolah-olah sedang bercerita pada anak-anak sehingga dengan gaya bahasa seperti itu akan mudah sekali dicerna oleh pikiran para pembaca. Harun Yahya mengatakan bahwa para evolunis jarang sekali mengangkat sitem kekebalan tubuh sebagai topik, sedangkan menurut Harun Yahya hal ini mengarahkan pada fakta bahwa sistem yang serumit semacam sistem kekebalan tubuh hanya bisa diciptakan seluruhnya sekaligus dengan semua unsurnya.

Harun Yahya seringkali memainkan analogi bagi penjelasannya seperti kehidupan ulat sutra yang setelah dari telur menjadi kepompong dan menjadi kupu-kupu dianalogikan dengan bayi yang baru lahir bisa berdiri selama beberapa jam dapat mengumpulkan bahan apa saja yang ia butuhkan untuk alas tidur. Maksud dari analogi ini adalah bahwa makhluk hidup lahir ke dalam kehidupan, berkelakuan dan hidup dengan cara yng ditentukan oleh Allah yang menciptakan mereka. Sehingga semua makhluk lahir ke dunia dengan dibekali pengetahuan yang berarti semua ini “diajarkan”. Tidak hanya ulat sutra tetapi Harun Yahya juga menuliskan keajaiban bagaimana kehidupan penyu, rayap, kumbang pengebom, jerapah dengan lehernya yang panjang, burung pelatuk, dll.

Beberapa hewan diperlengkapi dengan alat untuk melindungi diri dari musuhnya seperti kumbang pengebom yang jika terancam musuh akan mengeluarkan bahan kimiawi panas yaitu terdiri dari hidrogen peroksida dan hidroquinon yang tersimpan di tubuhnya. Campurannya itu disimpan di “ruang penyimpan” ruang ini dihubungkan dengan ke dua ruang yang disebut “ruang peledakan”. Kedua ruang ini dijaga agar terpisah satu sama lain dengan otot sfingter. Lalu ada pula telur-telur burung kedidit barat yang bewarna sama dengan lingkungannya supaya terlindungi musuh. Beberapa serangga menyamarkan diri mereka sendiri sebagai daun-daun mati sehingga sangat sulit untuk membedakan ngengat Panama dari daun layu. Bunglon sendiri adalah hewan penyamar yang dalam 20 menit dapat merubah warna tubuhnya sesuai dengan tempat yang disinggahinya.

Pada akhir subbab ini ada sebuah kesimpulan yang sangat bagus yaitu contoh-contoh yang telah kita bahas tadi juga mengungkapkan bahwa keberadaan kehidupan dan juga kesempurnaan sistemnya itu memaksa kita untuk mencari kekuatan hebat yang menjadikan semua ini. Sebagaimana angin topan yang tidak bisa menghasilkan pesawat terbang sebagai hasil dari kebetulan, mustahil juga bagi alam semesta untuk menjadi ada sebagai hasil dari kejadian yang tak terencana dan lebih-lebih mengandung susunan yang sangat rumit di dalamnya. Yang benar, alam semesta diperlengkapi dengan banyak sekali sistem dengan kerumitan yang jauh lebih terbatas daripada sistem pesawat terbang.

Bagian 4:

Para Ilmuan Menyaksikan Ayat-ayat Allah

Banyak para ilmuan yang menolak adanya tuhan atau tuhan disangkut pautkan dengan ilmu pengetahuan. Di dalam bab 4 ini, ditemukan bahwa beberapa evolunis bahkan secara sadar mengatakan bahwa mereka tidak bersandar pada ilmu pengetahuan, tetapi filsafat materialisme dan mereka menyelewengkan ilmu pengetahuan untuk membuatnya cocok dengan filsafat ini.

Sebaliknya, dewasa ini banyak pula seperti dalam sejarah para ilmuan yang mempertegas keberadaan Allah SWT. Mayoritas fisikawan modern menerima fakta penciptaan. Fisikawan terbesar dalam sejarah seperti Newton, Faraday, Kelvin dan Maxwell, merupakan sedikitnya contoh para ilmuan yang beriman (tidak ateis). Newton percaya bahwa Pencipta bumi dan angkasa adalah sama dan, karena itu, bisa dijelaskan dengan hukum yang sama. Harun Yahya juga mengutip beberapa perkataan Yohannes Kepler mengenai kepasrahan dirinya. Bahkan fisikawan besar, William Thompson (Lord Kevin) yang mendirikan termodinamika adalah seorang nasrani yang beriman kepada tuhan.

Berikut inilah nama-nama para ilmuan yang menerima bahwa alam semesta diciptakan :

  1. Robert Boyle (Bapak Kimia Modern),
  2. Iona Willian Petty (terkenal karena kajiannya tentang statistika dan Ekonomi Modern),
  3. Michael Faraday (salah seorang dari fisikawan terpanjang sepanjang masa),
  4. Gregory Mendel (Bapak Genetika; ia membatalkan Darwinisme dengan penemuannya dalam Genetika),
  5. Louis Pasteur (nama terbesar dalam Bakteriologi; ia menyatakan perang terhadap Darwinisme),
  6. John Dalton (Bapak Teori Atom),
  7. Balise Pascal (salah seorang dari matematikawan terpenting),
  8. John Ray (nama terpenting dalam Sejarah Alam Inggris),
  9. Nicolaus Steno (stratigrafer terkenal yang menyelididki lapisan bumi),
  10. Carolus Linnaeus (Bapak Klasifikasi Biologis),
  11. Georges Cuvier (penemu Anatomi Komparatif),dll.

Bagian 5:

Bukti Ilmiah dan Mukjizat Al-Qur’an

Pada bagian ini Harun Yahya menegaskan dari awal bahwa bagian ini akan mengamati bagaimana Allah menyatakan kepada kita beberapa fakta ilmiah mengenai penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an.

Fakta ilmiah pertama yaitu mengenai penciptaan langit yang terdapat dalam al-Mulk ayat 3 dan 4. “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian, pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmy akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” Fakta ilmiah lainnya mengenai langit yaitu q.s. Qaaf ayat 6 “Maka, apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak (cacat) sedikit pun?”.

Hampir semua kata seperti dalam pembahasan mengenai langit, bintang, planet, matahari, bulan, dan perputaran bumi, Harun Yahya selalu mencari akar kata tersebut dari bahasa Arab yang kaya akan makna dan arti. Seperti kata langit kebanyakan dalam bentuk jamak. Kata samawat yang bermakna langit-langit, dalam bahasa Arab berarti juga angkasa dan atmosfir bumi.

Di dalam buku ini diterangkan bahwa bulan dan bintang memiliki perhitungannya dan memiliki garis edarnya masing-masing, dapat dilihat di q.s. ar-Rahmaan ayat 5, Yaasiin ayat 40, dan al-anbiyaa ayat 33, adz-Dzaariyaat ayat 7, Yaasiin ayat 38.

Harun Yahya menjelaskan betapa pentingnya atap bagi kehidupan makhluk-Nya di bumi. Karena sesunggguhnya banyak informasi mengenai matahari yang hanya sedikit sampai ketelinga kita, tentang bahayanya dan manfaatnya. Penjelasan mengenai langit sebagai atap bumi ada pada al-anbiyaa ayat 32.

Teori Relativitas waktu adalah salah satu fakta ilmiah yang dikemukakan oleh Harun Yahya. Walau Einstein telah menemukannya tetapi keberadaan teori ini telah ada di dalam q.s. al-Hajj ayat 47, al-Ma’aarij ayat 4, as-Sajdah ayat 5. Fakta penciptaan mengenai gunung dan fungsinya ada pada q.s. Luqman ayat 10 dan al-Anbiyaa’ ayat 31, al-Furqaan ayat 48-49, al-an’aam ayat 99, Qaff ayat 9, an-nahl ayat 10-11. Sedangkan fakta penciptaan proporsi hujan dan angin di dalam al-Qur’an yaitu pada q.s. az-Zukhruf ayat 11, ar-Ruum ayat 48. Pada q.s. ar-Ruum, Harun Yahya mengidentifikasi bahwa ada 3 tahap proses hujan.

Bukti ilmiah dari al-Qur’an mengenai angin penyerbukan ada dalam al-Hijr ayat 22. Penyerbukan dilakukan untuk tanaman dan juga awan. Harun Yahya mengupas pula sedikit ilmu pengetahuan mengenai keunikan sidik jari yang ditemukan oleh Henry Faulds pada tahun 1880 dan barulah pada tahun 1884 penggunaan sidik jari menjadi salah satu identifikasi pembunuhan atau kriminal dan ada kaitannya di dalam q.s. al-Qiyaamah ayat 3 dan 4.

Harun Yahya juga menjelaskan secara kuat mengenai kelahiran manusia. Fakta-fakta di dalam al-Quran sering dituliskan agar kita selalu ingat bahwa manusia diciptakan oleh orang tua ataukan tuhan mereka. Seperti yang terdapat dalam q.s. al-Waaqi’ah ayat 57 sampai 59. Mengenai hal lainnya seperti air mani, campuran air mani, penentuan jenis kelamin bayi, segumpal darah yang melekat di rahim, terdapat dalam q.s. al-Qiyaamah ayat 36 dan 37, al insaan ayat 2, as-Sajdah ayat 7 dan 8, ath-Thuur ayat 35 dan 36, an-Najm ayat 45 dan 46, al-‘Alaq ayat 1-3, al- Qiyaamah ayat 36-39, al-Mursalaat ayat 20-21, al-Mu’minuun ayat 12-14, dan al-Infithaar ayat 6-8. Kesemuanya adalah menjelaskan fakta ilmiah di dunia yang telah terungkap di dalam al-Qur’an pada abad ke-20, padahal al-Qur’an telah 14 abad yang lalu di ciptakan, Maha Besar Allah dengan segala Firman-Nya.

Bagian 6:

Tipu Daya Teori Evolusi

Pada bagian ini Harun Yahya banyak mengungkapkan kelemahan daripada teori yang dikeluarkan oleh Darwin. Charles Robert Darwin dalam bukunya The Origin of Species by Means of Natural Selection pada tahun 1859, mengatakan bahwa semua makhluk memiliki leluhur yang sama dan mereka berkembang dengan melalui seleksi alamiah. Kemampuan imajinasi Darwin dalam mengkhayalkan kehidupan sangat berbeda dengan fakta yang oleh alam sediakan. Misalnya saja bentuk transisi yang dipikirkan oleh Darwin dalam pencarian fosil tulang hewan-hewan tidak ditemukan setengah ikan setengah reptil. Yang ada adalah fosil Cambrian yang ditaksir berumur 530-520 juta tahun.

Makhluk hidup berupa fosil yang terdapat paa lapisan bumi periode Cambrian semuanya muncul tiba-tiba tanpa keberadaan pendahulu mereka. Aneka organisme hidup ini, yang tersusun dari sejumlah besar makhluk rumit, muncul dengan sedemikian tiba-tiba sehingga dalam literatur ilmiah kejadian yang menakjubkan ini disebut “Peledakan Cambrian.”

Harun Yahya juga menyebutkan bahwa hewan masa Cambrian telah memiliki kerumitan dan organ yang telah maju, tidak ada yang berevolusi. Bahkan pada tahun 1984, banyak hewan invertebrata yang digali di Chengjiang dataran tinggi Yunan, di pedalaman Cina barat daya. Diantaranya adalah trilobit yang kini telah musnah, tetapi strukturnya tidak kalah rumit dari semua hewan tak bertulang belakang modern. Harun Yahya juga membeberkan fakta fosil yang dibuat palsu oleh ilmuan untuk mendukung teori Darwin. Harun Yahya juga membahas mengenai protein yang menurut para evolunis sebagai suatu hal yang kebetulan ada pada kondisi bumi primitif. Harun Yahya jelas membantahnya dengan penjelasan padat namun singkat dan jelas bahwa tidak lah mungkin sebab protein yang paling sederhana tersusun dari lima puluh asam amino, namun ada beberapa protein yang terdiri atas ribuan asam amino. Disamping itu, ketiadaan atau penggantian asam amino tunggal dalam struktur protein sel hidup, yang masing-masing mempunyai fungsi khusus, menyebabkan protein menjadi timbunan molekul yang tiada guna. Ada dua puluh jenis asam amino. Jika kita pertimbangkan bahwa molekul protein rata-rata tersuasam amino, terdapat 10 pangkat 300 kombinasi asam yang berlainan. Meskipun para evolunis berupaya menciptakan protein sendiri dari bumi primitif yang dilakukan oleh Stanley Miller, yang menguraikan bahan-bahan seperti amonia, uap air, metana dan hidrogen dengan bantuan cahaya petir buatan dan berhasil membentuk dua puluh asam amino. Tetapi kebatilan dari Miller ini terungkap yaitu ia tau bahwa tanpa amonia pembentukan asam amino tak akan berhasil. Ia lupa dan mengabaikan sinar ultraviolet dari matahari, halilintar, berbagai zat kimia yang ada di alam, sehingga model eksperimen Miller ini banyak cacatnya dan kurang rasional karena mengabaikan itu semua.

Harun Yahya juga menceritakan betapa para evolunis belum bisa menjelaskan mengenai DNA. Pada tahun 1955 DNA ditemukan oleh James Watson dan Francis Crick. Molekul yang disebut DNA memiliki informasi mengenai karakteristik seseorang, dari tampilan fisik hingga struktur organ dalam direkan di DNA dengan sistem penyandian istimewa. Informasi di DNA disandi dalam rangkaian empat basis khusus yang menyusun molekul ini. Basis-basis ini ditentukan sebagai A, T, G, dan C. Evolunis Prof. Ali Demirsoy terpaksa menerima persoalan berikut ini

“Pada kenyataannya, peluang pembentukan acak protein dan asam nukleat (DNA-RNA) terlampau kecil. Kesempatan munculnya serantai protein tertentu saja bersifat astronomis”.

Bahkan Jacobson seorang mikrobiologi takjub akan keistimewaan adanya DNA di dalam tubuh. Ia mengatakan;

“Kombinasi peristiwa ini tampaknya dengan luar biasa, tidak mungkin merupakan kejadian yang kebetulan, dan sering kali dianggap berasal dari intervensi ilahi.”

Dengan runtuhnya teori evolusi di segala bidang, nama-nama terkemuka dalam disiplin ilmu mikrobiologi akhirnya menerima fakta penciptaan oleh sang Pencipta yakni Allah SWT.

Bagian 7:

Falsafah Sesat yang Mengingkari Allah

Pada bagian ini Harun Yahya banyak mengupas mengenai orang-orang serta perkumpulan yang menamakan diri Freemasonry dan Mason. Yahudi dan freemasonry bekerjasama untuk menghapus agama-agama yang ada di seluruh dunia yaitu dengan cara membuat orang-orang untuk berpikir secara materialistis, sehingga pada akhirnya teori Darwin diterima dan mentiadakan tuhan dalam kehidupan mereka. Kita dapat menemukan dalam q.s. Saba ayat 33 yang meminta perhatian kita mengenai kelompok-kelompok ini. Dalam surat lainnya yaitu Allah memaparkan di dalam Al-Qur’an sebagai “orang yang bermewah-mewah” (al-mu’minuun:64) atau “pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya” (al-A’raf: 75) yang berarti bahwa orang-orang ini adalah hartawan kaya raya, berkedudukan tinggi di masyarakat, dan memperlihatkan keangkuhan dan kesombongan karena hartabenda mereka.

Organisasi freemasonry adalah organisasi internasional yang ada dibeberapa negara selama beberapa abad terakhir ini. Bahkan Paus Leo XIII menganalisis organisasi freemasonry akan menghapus tatanan sosial yang ada. Harun Yahya dari berbagai sumber menyebutkan nama-nama orang yang ada di balik freemasonry dan Mason yaitu:

  1. Ferdinand Lasalle. Ia adalah kawan dekat Karl Marx, pembela gagasan kediktatoran komunis revolusionis.
  2. Victor Adler. Sebagai tangan kanan Engels, Adler mengerahkan banyak usahanya untuk menyiarkan komunis.
  3. Giorgy Lukacs. Orang kaya Yahudi dan menulis banyak buku komunis.
  4. Vladimir I. Lenin. Pendiri salah satu rezim totaliter yang paling berdarah di dunia.
  5. Herbert Marcuse. Putra keluarga yahudi yang mendorong pergerakan kemahasiswaan kiri.

Kita tidak boleh menjalani kehidupan seperti kebanyakan orang yang tidak menghargai adanya Allah dan mengira bebas dari-Nya. Bahkan Allah telah memberi tahu kita mengenai persoalan ini dalam Q.s. al-an’aam ayat 116.

Bagian 8:

Keburukan Model Masyarakat yang tidak Beriman Kepada Allah

Harun Yahya menyebut tatanan masyarakat yang tidak beriman yang kafir dengan tatanan masyarakat yang rusak, menyimpang dan primitif. Fakta yang terlihat dan dapat diamati adalah pikiran yang tidak religius yang mendukung penghapusan konsep akhlak dan pembangunan masyarakat yang menyimpang sepenuhnya. Masyarakat yang melanggar batas-batas religius dan moral serta semata-mata melayani pemenuhan nafsu manusia. Dari semua ini munculah berbagai macam kemunduran manusia seperti kecanduan obat-obatan terlarang, kelainan seksual, hingga akhirnya berkembanglah masyarakat yang bersifat egoistik, keras kepala, dangkal dan tidak bijaksana. Sehingga mereka hidup di dunia ini adalah hanya menjalani untuk bersenang-senang dan semaksimal mungkin untuk memuaskan hasrat dan kebutuhan mereka sendiri.

Ciri umum masyarakat semacam itu adalah keterpedayaannya secara keseluruhan. Seperti dinyatakan dalam ayat,

“Dan, kalau kamu menhikuti kebanyakan orang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…,” (Al-an’aam ayat 116)

Manusia memiliki hak untuk melepaskan diri dari indoktrinasi, jalan hidup, dan filosofi jahiliyah. Allah mengutus rasul untuk memberi peringatan kepada semua umat manusia akan keberadaan Allah melalui Al-Qur’an.

“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu. Karena itu, barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu untuk kecelakaan dirinya sendiri. Dan, aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (Yunus:108).

Bagian 9:

Rumah Masa Depan: Akhirat

Banyak orang ateis yang mengira bahwa dunia ini akan kekal abadi untuk selamanya. Tetapi Allah dalam surat al-Mu’minuun ayat 115 mengatakan,

“Maka, apakah kamu menghira bahwa sesuangguhnya Kami menciptakan kamu secara sia-sia (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Hari kiamat diawali dengan peniupan sangkakala yang memekakan telinga manusia. Meski hanya Allah saja yang mengetahui kedatangan hari kiamat ini, tetapi di dalam surat al-Qamar ayat 46 menyebutkan,

“sebenarnya, hari kiamat itulah hari yang menjanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”

Harun Yahya bersumber dari Al-Qur’an menerangkan mengenai kekacauan yang terjadi pada saat hari kiamat seperti bahwa gunung-gunung hancur luluh dan menjadi debu-debu yang berhamburan (al-Waaqi’ah:5-6), pada saat itu orang-orang melihat lautan meluap (al-infithaar:3) dan membara (at-Takwiir:6). Langit mulai goyang, bumi mulai koyak, biru langit cerah berubah mejadi lelehn perak (al-Ma’aarij : 8). Benda langit yang terang menjadi padam, matahari digulung (at-Takwiir:1), bulan dibelah (al-Qamar:1) dan matahari dan bulan disatukan (al-Qiyaamah:9), perempuan yang hamil mendapati keguguran karena ketakutan yang mencekam, anak-anak menjadi beruban (al-Muzammil:17), semua orang saling menjauh karena disibukan oleh penyelamatan diri masing-masing (‘Abasa:33-37).

Sangkakala ditiupkan untuk yang kedua kalinya yang menandakan hari dihisab. Dengan dibangkitkannya manusia-manusia dari alam kubur mereka berjalan menuju Tuhannya. Masing-masing orang akan menerima kitab amal perbuatannya selama di dunia. Setelah dihisab mereka akan di giring entah ke neraka ataukan ke syurga untuk kekal abadi selama-lamanya. Orang-orang yang lebih berat amal dosanya maka ia akan dijebloskan ke dalam neraka yang berlapis-lapis untuk kekal selama-lamanya. Orang-orang yang amal perbuatan baiknya lebih berat maka ia akan dimasukan ke dalam syurga yang penuh dengan kenikmatan yang belum pernah ada di dunia. Mereka mengenakan pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka memperoleh apa yang mereka inginkan. Mereka juga diberi pasangan di syurga, dan mereka hidup bahagia. Mereka mendapatkan rezeki berupa buah-buahan dan diedarkan pada mereka pinggan-pinggan dari emas dan piala-piala yang juga dari emas.

Ayat-ayat yang berhubungan dengan syurga adalah; az-Zukhruf:71; Qaaf:35 ; al-Baqarah:25; al-Hijr:45-48; al-Kahfi:31; Yaasiin:55-58; ad-Dukhaan 51-57; al-Ankabuut:58. Allah juga memberikan peringatan bagi mereka yang akan diselamatkan yang ada pada surat at-Taubah ayat 109.

Harun Yahya mengungkapkan ada cara untuk menyelamatkan diri dari azab abadi dan untuk mendapatkan surga yang kekal adalah jelas, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah dengan tulus sebelum terlambat,
  2. Jalanilah kehidupan untuk mencari keridhoan Allah.

Sedangkan orang –orang yang terus-terusan tidak mendapatkan hidayah dan ingkar terhadap ayat Allah terancam dimasukan ke dalam neraka dalam surat al-Balad ayat 19-20,

“Dan, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri. Mereka berada di dalam neraka yang ditutup rapat.”

Di dalam bagian ini Harun Yahya mengungkapkan bahwa bagian ini merupakan bagian yang sangat penting yang harus dibaca oleh semua orang baik itu yang beriman ataupun yang tidak beriman kepada hari akhir. Menurutnya bagian ini bukan hanya sudut pandang, suatu pendekatan yang berbeda atau pemikiran filosofis atau tradisional melainkan juga suatu fakta yang harus diakui oleh setiap orang yang nantinya akan dibuktikan melalui ilmu pengetahuan saat ini.

Bagian 10:

Pemahaman Materi yang tidak Materialis

Pada bagian ini Harun Yahya cendrung banyak berpikir secara filsafat mengenai apa itu “dunia luar” dan “materi”. Hampir semua yang panca indera kita cerap menurutnya adalah semu belaka karena sebenarnya mereka (materi) adalah dunia persepsi saja. Riset modern menunjukan pemahaman yang tidak jauh berbeda mengenai dunia luar dan pancaindera kita.

Pemikiran ini berasal dari pendekatan tentang “dunia luar” yang terbentuk dalam otak kita yang hanya merupakan respon yang diciptakan dalam otak kita dengan sinyal-sinyal kelistrikan. Banyak contoh yang diberikan semisal apel yang berwarna merah, rangsangannya diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan menimbulkan efek-efek di dalam otak kita. Tatkala kita “melihat”, sebenarnya kita memandang efek-efek dari sinyal-sinyal listrik di dalam otak kita.

Harun Yahya juga menjelaskan bagaimana kita melihat, mendengar dan merasakan. Tindakan melihat disadari secara progresif. Gugus-gugus sinar (foton-foton) berjalan dari objek ke mata dan melewati lensa di depan mata yang membiaskan foton dan membalikannya pada retina di belakang mata. Di sini cahaya diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim oleh neutron ke suatu titik yang sangat kecil yang disebut “pusat penglihatan” di belakang otak. Sinyal listrik ini diterima sebagai suatu kesan di bagian tengah otak setelah adanya serangkaian proses. Tindakan melihat sebenarnya terjadi di titik yang sangat kecil ini di bagian belakang otak, yang gelap gulita dan sepenuhnya tersekat dari cahaya.

Harun Yahya mengingatkan bahwa tubuh kita pun adalah suatu kesan yang terbentuk dalam otak anda. “dunia luar” yang tersaji untuk kita melalui penginderaan hanya merupakan kumpulan sinyal listrik yang sampai ke otak. Kesimpulannya adalah alasan kita melihat objek-objek berwarna bukanlah karena memiliki keberadaan material yang terpisah di luar obejk itu sendiri. Kebenaran zat ialah bahwa semua sifat yang kita anggap berasal dari objek itu ada dalam diri kita dan bukan di “alam luar”. Satu-satunya dunia yang benar-benar ada adalah dunia persepsi. Siapa pencerapnya yaitu adalah “Roh”. Karena jika selain roh atau atom-atom, dapatkan atom-atom melihat kesan-kesan ini?.

Harun Yahya menyerang setiap sisi-sisi dari para orientalis barat yang materialistis. George Politzer, Karl Marx menuliskan bahwa jika kue yang kita makan hanya merupakan persepsi, kue itu tidak akan mengehentikan rasa lapar kita. Pemahaman yang salah yang memberi jalan untuk contoh-contoh materialisme ini adalah menafsirkan “zat ialah persepsi” sebagai “zat merupakan permainan cahaya”. Mereka mengira bahwa persepsi terbatas untuk dilihat dan bahwa indera lain seperti sentuhan mempunyai korelasi fisik. Mereka tidak memahami bahwa semua persepsi yang dialami seperti tabrakan, keras, sakit sebetulkan terbentuk dalam otak.

Penganut materialisme menyatakan bahwa yang sedang dibicarakan di sini ialah pandangan filosofis. Akan tetapi, berpendapat bahwa “dunia luar” merupakan sekumpulan persepsi bukan materi filsafat, melainkan fakta ilmiah biasa.

Harun Yahya menemukan bahwa para materialis menjadi ketakutan dan khawatir. Salah seorang penulis majalah yang membela materialisme yaitu Rennan Pekunlu yang memperlihatkan karya Harun Yahya yang berjudul “Evolution Deceit” sebagai ancaman nomor satu terhadap materialisme. Rennan Pekunlu mengatakan bahwa teori evolusi tidak begitu penting, ancaman nyatanya adalah subyek ini, karena ia sadar bahwa subjek ini menihilkan materi, satu-satunya konsep yang ia yakini.

Pada akhirnya pokok bahasan ini meniadakan materi dan menghancurkan paradigma para meterialistis, yang benar-benar ada adalah Allah yang mutlak adanya. Kenyataan ini dipahami oleh sejumlah teis (orang-orang yang mengakui adanya Allah) atau filusuf sepanjang sejarah. Intelektual islam seperti Imam Rabbani, Muhyiddin Ibnul-‘Arabi, dan Maulana Jami menyadari hal ini dari ayat-ayat Al-Qur’an dan penggunaan akal mereka. Karena alasan inilah, abad ke-21 akan menjadi titik balik bersejarah ketika manusia berbondong-bondong menuju Allah, satu-satunya keberadaan yang mutlak.

Bagian 11:

Relativitas Waktu dan Kenyataan Takdir

Sesuatu yang kita cerap sebagai waktu adalah suatu metode pembandingan satu momen dengan yang lainnya. Konsep waktu yaitu membandingkan saat ia hidup dengan yang ia miliki dalam ingatannya. Jika pembandingan ini tidak dibuat, tidak mungkin ada konsep waktu. Pendek kata, waktu menjadi ada sebagai akibat dari pembandingan yang dibuat antara ilusi-ilusi yang tersimpan di dalam otak. Para evolunis mengatakan bahwa zat bersifat mutlak dan waktu bersifat kekal adalah salah. Pada kenyataannya kita tidak pernah bisa mengetahui bagaimana waktu mengalir atau bahkan apakah mengalir atau tidak. Ini merupakan indikasi fakta bahwa waktu bukanlah fakta mutlak, melainkan hanya semacam cerapan.

Relativitas waktu adalah fakta yang teruji oleh fisikawan penting abad ke-21, Albert Einstein. “ruang dan waktu merupakan bentuk intuisi yang tidak bisa dipisahkan dari kesadaran lebih dari pada yang bisa (dipisahkan dari) konsep warna, bentuk atau ukuran. “ Menurut teori Relativitas Umum, “waktu tidak mempunyai keberadaan yang bebas terpisah dari tatanan peristiwa yang dengannya kita mengukurnya.” Karena terdiri dari cerapan maka waktu tergantung sepenuhnya pada pencerapnya dan karena itu brsifat relatif. Relativitas waktu jelas terlihat dalam mimpi. Meskipun yang kita lihat dalam mimpi tampaknya berlangsung selama berjam-jam, hal itu sebenarnya berlangsung selama beberapa menit dan bahkan beberapa detik.

Relatifitas waktu ialah fakta ilmiah yang juga terbukti dengan metode ilmiah. Teori Relativitas Umum Einstein pun berpendapat bahwa kecepatan waktu berubah tergantung pada kecepatan objek dan posisinya di medan gravitasi. Bila kecepatan terus bertambah maka waktu disingkat dan terus dipadatakan: waktu melambat seolah-olah sampai ke titik “berhenti”. Contohnya adalah seorang ayah yang bepergian ke luar angkasa, sedangkan anaknya diam di bumi. Jika si ayah berusia 27 tahun ketika berangkat sedangkan si anak berusia 3 tahun. Ketika ayahnya kembali ke bumi pada 30 tahun kemudian (waktu bumi), anaknya akan berusia 33 tahun sedangkan ayahnya masih berusia 30 tahun. Relativitas waktu bukan karena perlambatan ataupun percepatan arloji, ini justru hasil dari perbedaan periode kerja seluruh sistem.

Relativitas dalam al-Qur’an terbukti secara ilmiah bahwa waktu merupakan persepsi psikologis yang bergantung pada peristiwa, pranata, dan kondisi. Contohnya, seluruh kehidupan seseorang sangat singkat seperti yang dikabarkan dalam al-Quran,

“Yaitu pada hari Dia memanggilmu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tinggal (di dunia ini) hanya sebentar.” (al-Israa:52)

“Dan, (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seolah-olah mereka tidak pernah berdiam (di bumi) kecuali hanya sesaat pada siang hari; (di waktu itu) mereka akan saling mengenal…” (Yunus:45)

“Dan, mereka meminta kepadamu supaya azab itu dipercepat, tetapi Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung. (al-Hajj:47)

Dari sebuah petikan surat al-Baqarah ayat 259 menekankan bahwa Allah yang menciptakan waktu dan tidak dibatasi waktu. Sebaliknya, manusia dibatasi oleh waktu yang telah ditakdirkan Allah. Takdir ialah pengetahuan Allah yang sempurna tentang semua peristiwa masa lalu ataupun masa mendatang. Masa lalu, masa datang, dan masa sekarang semuanya sama bagi Allah; bagi-Nya segala sesuatu telah terjadi dan berakhir. Takdir adalah pengetahuan yang abadi dari Allah dan bagi Allah, Yang mengetahui waktu seperti satu kejadian saja dan yang berlaku atas seluruh waktu dan ruang; segala sesuatu ditentukan dan diakhiri dalam takdir.

BAB III

ANALISIS

Dari keseluruhan subbab yang telah di baca dan telah dilaporkan yakni benar adanya dan harus diakui bahwa fakta penciptaan telah ada di dalam Al-Qur’an yang telah ada sejak 1400 tahun yang lalu. Bukti otentik mengenai teori Big Bang telah ditemukan oleh para ilmuan. Hanya saja tidak semua para ilmuan mau mengakui adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta, meski bukti-bukti telah ada di depan mata tetapi para ilmuan berpaham ateis tetap menyangkal dengan berbagai penipuan terhadap hati mereka dan orang lain. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

“(Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya” (Saba’:33)

“Dan kalau kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persengketaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (al-An’aam:116)

Alam semesta tercipta dari ledakan dahsyat yang kita sebuat dengan teori Big Bang. Setelah ledakan dahsyat itu terjadilah limpahan radiasi yang tertinggal di alam semesta. Radiasi latar kosmos ini telah diteliti dan benar adanya. Semua bukti menunjukan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan dibumi merupakan hasil dari penciptaan Allah bukan dari kebetulan ada untuk tetap dan untuk kekal selamanya.

Hubungan hasil dari penelitian oleh para ilmuan ateis sengaja di rekayasa untuk mempertahankan teori Darwin. Walau sesungguhnya bukti yang ada menunjukan bahwa Allah itu ada tetapi para ilmuan ateis yang berlindung di balik teori Darwin sengaja menipu dan membual untuk sebuah kepentingan yaitu sebuah gerakan rahasia yang mendukung anti agama dan ingin merusak tatanan sosial yang ada yaitu Freemasonry dan Mason. Harun Yahya mengajak kita yang telah beriman untuk membaca dan mengkaji kembali ilmu pengetahuan agar kita lebih yakin akan adanya Allah dan akan adanya hari akhir dan hari perhitungan. Sedangkan bagi orang-orang yang masih meragukan adanya Allah, Harun Yahya mencoba menjelaskan melalui fakta-fakta ilmiah dan mengeluarkan buku-buku yang sengaja dikaitkan antara ilmu dan agama karena sesungguhnya seluruh ilmu bersumber dari Al-Qur’an yang sudah Allah prediksikan, tetapkan bahwa ayat-ayatnya akan segera menunjukan kebenaran yang hakiki.

Bagaimana caranya mengenal Allah lewat akal adalah dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan buku karya Harun Yahya diantaranya adalah “Mengenal Allah Lewat Akal”, “Keruntuhan Teori Evolusi”, dll. Diantara semuanya itu akan lebih baik lagi apabila kita secara langsung terjun untuk meneliti makhluk-makhluk yang ada di bumi ini, sehingga pemahaman kita akan lebih baik dari sekedar membaca karya orang lain. Mengenal fakta yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan bukan tidak mungkin tetapi akan lebih baik apabila kita lebih memahaminya. Harun Yahya adalah sedikit dari ilmuan islam yang berani mengungkapkan fakta-fakta kebenaran tentang islam terutama akan adanya Allah.

Memang benar bahwa segala sesuatu itu pasti ada yang menciptakan, pasti alam semesta ini ada yang mengaturnya, pasti ada yang merancangnya sedemikian seimbangnya sehingga tidak terjadi tabrakan antar planet yang satu dengan planet yang lainnya. Tidaklah mungkin bahwa segala sesuatu muncul secara tiba-tiba seolah-olah ada tanpa penciptaan. Pemikiran semacam itu adalah pemikiran yang mengarah pada penolakan kepada adanya sang pencipta yaitu Allah SWT.

BAB IV

TANGGAPAN

Dari hasil olahan membaca buku karya Harun Yahya, kita menjadi semakin yakin dengan keberadaan Allah SWT. Tiap dari subbabnya membahas secara detail dan cendrung sebab akibat sehingga gaya analitis dari karya Harun Yahya sangat terasa. Penjabaran yang sangat fokus ini membuat para pembacanya cendrung menikmati buku ini dengan seksama. Gaya bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti memudahkan pembaca dalam memahami setiap sub bab yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Di suguhkannya data-data yang otentik membuat kita lebih yakin akan kebenaran yang disuguhkan dalam buku tersebut. Analogi-analogi yng dihadirkan sangat mendasar dan berkaitan sehingga mudah untuk mengikuti penjabaran yang dirasa rumit justru menjadi mudah.

Buku karya Harun Yahya wajib dimiliki oleh setiap umat muslim di dunia dan umat lainya yang ingin mencari kebenaran dari fakta-fakta ilmiah. Karya Harun Yahya selalu ada pembahasan yang berkenaan dengan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga kita sebagai orang awam akan segera memahami makna yang terdapat dari dalam ayat Al-Qur’an. Buku ini menunjukan kualitas dari sang penulisnya bukan hanya dari data-datanya tetapi juga cara pandang, pola pikir dan cara penyampaiannya yang tidak berkesan menggurui tetapi cendrung apa adanya sesuai fakta yang ada di alam. Penulis tidak berusaha menutup-nutupi bahkan bila ia diserang secara tulisan maka ia juga tidak kalah akan menjabarkan kesalah pahaman yang terjadi atau bahkan kedok-kedok itu akan dibukanya perlahan namun pasti guna meluruskan kesalahan paradigma yang materislistis yang salah kaprah.

Daftar Pustaka

Yahya, Harun. 2001. Keruntuhan Teori Evolusi. Bandung:Dzikra.

Yahya, Harun. 2002. Mengenal Allah Lewat Akal. Jakarta:Robbani Press.

Pratiwi, D.A. 1997. Buku Penuntun Biologi SMU Kelas 3. Jakarta: Erlangga.

info@harunyahya.com

www.yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s